TINGGALKAN JEJAK KUNJUNGAN SOBAT DENGAN KOMENTAR SAHABAT. TERIMA KASIH....
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Agustus 2009

Antara Ceu PeU, teh Moni dan Ki mbod


(Bagian dua)

Antara aku, kau dan bekas pacarku.. mungkin itu judul lagu yang sobat dari bang Iwan Fals. Di bagian satu aku sudah banyak bercerita keadaan teh Moni ceu PU dan Ki embod. Yang sebenarnya aku lagi di hadapkan dari ketiga hardwer komputerku.
Saya udah habis pikir apalagi.. yang masih keliru… aku cek satu persatu.. dari harddisk, memori, kabel-kabel semuanya sudah ok. Rasa penasaran aku cek mereka di komputer yang OK ternyata juga ga ada masalah..dionkan masih saja monitornya gelap… dan keybord jadi ga fungsi.. padahal kemarin baik-baik saja.. tadinya aku mo cek BIOS. Tapi ga keluar.. di del terus-menerus pun ga bisa

Akhirnya CPU ku bawa ke bengkel keesokan harinya…
Dan alhamdulillah jalan deh… tuh Kan CPU nya ga masalah… hmm CPU nya pengen jalan-jalan juga..

Setelah sampe rumah aku pasang kembali… dan hasilnya…sama kaya kemarin malam…
Saya bawa lagi CPU nya.. kali ini di bawa sama monitornya…..
Ternyata jalan ya.. kalu di bengkel…..

Hmm ini psti ki mbod yang tiba-tiba jatuh sakit dari kemarin malam….. akhirnya ku ganti dengan keyboard satunya yang menurutku masih bagus.. dan jeng-jreng.. nkhirnya nyala … alhamdullahirobil alamin….
“Terima kasih Ya Allah, engkau telah memberi ilmu mu yang maha luas ini”
Hampir dua puluh empat jam aku mencari ilmu mu ini… ThankS Allah…
Ringkasan Masalah
”CPU jalan dengan baik monitor tidak ada tampilan, keyboard nyala sewaktu power CPU dionkan tapi selanjutnya…ga menyala… sehingga bios pun ga keluar.. apalagi booting..

Solusi…
Keyboardnya di lembiru aja. Alias lempar beli yang baru…. Atau yang masih bagus gitu…





Antara Ceu PeU, teh Moni dan Ki mbod

(Bagian satu)

Hah… kutarik nafasku dalam – dalam. Sing pagi itu langit itu begitu cerah. Kutelpon mang Wawan dari kejauhan. Kebetulan rumahnya cukup jauh dari rumahku. Aku panggil dia untuk melihat teh moni yang telah lama berbaring sakit.
Siang hari setelah dzuhur dan makan siang, mang Wawan pun datang – dia telat 2 jam dari yang ia janjikan.
“Gimana kang OP?” tanya mang Wawan
“Baik mang!” jawabku.
“Teh Moni nya mana?” Mang Wawan tanya berikutnya.
“Oh ya… ada di dalam, ayo mang masuk ke dalam!” Pintaku “emang masuk keluar?

Masuk mah ke dalam atuh kang!
Ga papa diluar aja kang!
“Ya udah atuh nanti saya bawa keluar aja.” Jawabku.

Akhirnya aku keluar bersama the Moni. Nampak mang wawan sedang membereskan alat-alat dan memasang alat listrik karena biasanya dalam melakukan terapi ia tak lepas dari listrik.

Setelah dilihat-lihat oleh mang Wawan. wah… kalau keadaannya begini,Kayaknya aku perlu bantuan yang lain. Bay the way… ceu Peu, ki mbod dan wa amus ada? Tanya mang wawan dengan logat Bandungnya yang lekat.
Aku sudah lama ga mlihat mang Wawan, tampak kumisnya udah semakin lebat. “Aku kaya ingat dengan mister Limbat” gumamku.

Tepat jam satu siang, akhir nya sudah ngumpul diteras rumahku yang sempit.
Mulailah mang Wawan “mengobati” the Moni.
“Sudah lama the moni begini?” Tanya mang Wawan.
“ ya… sudah lama terbaring mang, sekitar lima bulan, mau sama saya tapi ga bisa” jawabku pasrah.
Sekitar satu jam mang Wawan melakukan segala daya upaya. Dan akhirnya selesai sudahlah. “Cepat juga ya….emang pinter mang wawan! Gumamku
“alhamdulillah akhirnya teh moni sembuh juga” kataku….
“ rawatlah baik-baik ya… sering dikontrol! Pinta mang Wawan.
Akhinya mang Wawan pun pulang melanjutkan pasien berikutnya. Kuberikan uang sepuluh ribuan tiga sama lima ribuan satu sebagai balas jasa sama mang Wawan.

Syukur Alhamdulillah ya Alah, akhir teh Moni telah kembali baik, wajahnya sudah nampak bersinar di balik kulit nya yang agak kehitam-hitaman.

The moni, ceu Pu, Ki Mbod dan wa Amus sudah berkumpul kembali diruanganku yang sempit. Kucoba menyatukan mereka kembali. Aku ingin mereka menjadi sesuatu kesatuan yang utuh. Saling berbagi dan memberi. Jika yang satu tak ada yang lainnya pun menjadi tak berdaya. Begitulah kehidupan mereka selama ini.

“Massa Allah, kenapa lagi the moni? Ku lihat ia tak memancarkan cahayanya kembali. Jangan-jangan seperti itu lagi.” Harap ku cemas.

Ku lihat ceu PU tegar berdiri. “ Tapi….. kok ki mbod, kenapa…. Dari tadi ga ada apa-apa, sekarang malah ga bercahaya….kumaha ini the…satu sakit eh malah ikut-ikutan… gimana aku harus mengurus semua ini.. Mana istriku lagi ga ada, uang nya pun tinggal seratus ribu. Padahal hari masih ditengah bulan.. masih jauh dari tanggal satu lagi….dari mana biaya perawatan semua ini..” aku terus cemas menghadapi situasi ini…
Hh…. Semoga ada ada jalan keluar. Ok aku kang OP “Orang Pintar” jangan dulu stress. Belum juga juga cari jalan lain dah stress duluan… ga boleh itu!” hibur hatiku yang lagi H2C. Istirahat dulu ah.. sudah malam… tubi kontinyu…

Pemain
Aku = Kang OP “nama di udara”
Ceu PU = CPU “ Central Processor Unit”
Teh Moni = Monitor
Ki mbod = keyboard
Wa amus = Mouse

Senin, 11 Mei 2009

Satu, dua, tiga, …dst

Satu, kau begitu indah
Dua, kau begitu menggoda
Tiga, kau begitu misteri
Aku jadi tak sabar…

Lima kadang ku ragu
Enam kadang ku benci
Tujuh kadang kusuka
Aku jadi gregetan.

Delapan mengapa begini
Sembilan mengapa begitu
Sepuluh kujadi heran


Bawalah aku ke dalam
Ke dalam dunia dirimu
Kuharap ku temukanmu
Aku jadi tak tahan

Kadangkala aku merasa jenuh
Kadangkala aku merasa bosan
Kadangkala kuingin pergi
Pergi peninggalkanmu

Tadi.. sampai berapa ya….
Oh.
Sebelas ku ingin kembali
Dua las ku buka lagi
Tiga las kucari lagi
Pat las kucoba lagi
Ma las kuhitung lagi
Nam las ku temukanmu…

Huh… akhirnya ku bisa
Menyeselesaikan soal ini cuy….

Rabu, 29 April 2009

G R A V I T A S I
Andi Nuryandi

Saya tarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Sejenak saya berhenti menulis. Sebetulnya bukan begitu. Saya memanglah belum menulis apa-apa. Semenjak saya duduk di bawah pohon apel ini lima menit yang lalu, kenyataannya saya belum menulis apapun. Saya memang sedang bingung hendak menulis apa.
Beginilah malam-malam saya sekarang. Serba bingung. Dan karena kebingungan itulah saya kini tidak lagi bisa menjumpai inspirasi yang biasanya datang dengan cepat. Entah takdir atau bukan, entah disengaja atau tidak, seolah-olah saya dijauhi oleh berbagai hal. Setiap pekerjaan yang saya sentuh selalu berakhir dengan kegagalan. Dan Tuhan sepertinya memandang sebelah mata. Dia tak lagi menghampiri saya bersama keindahan-keindahan yang pernah saya alami sebelumnya. Bahkan bulan di atas sana pun seakan enggan menyapa dengan pantulan cahayanya yang biasa saya rasakan di waktu lain. Saat ini, ia hanya tersipu malu-malu di balik ketiak awan hitam.



Tiba-tiba saya dikejutkan oleh sesuatu yang jatuh menimpa kepala. Untung saja hanya sebuah apel. Andai saja bulan besar itu yang membentur kepala, tentu tubuh saya tidak akan berbentuk lagi.
Hey, tunggu!
Kalian merasakan sesuatu?
Adakah sesuatu yang aneh dari peristiwa yang baru saja saya alami?
Bayangkan sebuah benda kita tempatkan di suatu ketinggian. Ketika benda itu kita lepaskan, maka dia akan jatuh ke permukaan bumi. Tetapi mengapa bulan tidak? Jika kita jatuhkan apel dengan daun, maka yang lebih cepat sampai di tanah adalah apel karena apel lebih berat dari daun. Tetapi mengapa bulan tidak? Padahal bulan lebih berat dari apel maupun daun.
Kalian telah menemukan sesuatu? Apa yang kalian tahu? Adakah sesuatu yang aneh di situ? Kalian sudah tahu jawabannya?
Saya sendiri sudah memiliki jawabannya. Jika kita mengikat sebuah batu kecil dengan tali, kemudian ujung tali yang lain kita putar-putar di atas kepala kita, batu tidak akan jatuh karena ia berputar dengan kecepatan yang tetap. Dan jika tali tiba-tiba putus karena tenaga yang kita berikan terlalu besar, maka batu kecil tadi tentu akan terlempar jauh entah ke mana.
Hal seperti itulah yang menyebabkan bulan tidak jatuh ke bumi. Bulan bergerak hampir teratur mengelilingi planet kita sehingga ia tidak pernah jatuh ke bumi atau terlontar ke angkasa luar. Maha Besar Allah yang telah menjaga bulan supaya tetap pada posisi putarannya. Terimakasih Tuhan, Kau telah memberikan pelajaran yang sangat berharga pada saya malam ini. Ternyata Kau tidak mencampakkan saya. Saya tak lagi menyangsikan kebesaran karya-Mu. Akan saya kabari dunia dengan penemuan besar saya ini.
Selamat malam semuanya!



*) Cerita ini diilhami oleh peristiwa yang dialami Sir Isaac Newton tatkala menemukan hukum gravitasi antar planet.

Kohesi dan Adhesi

(sebuah sastra fisika)

Pagi itu matahari terlihat malu-malu menampakkan wajahnya yang biasa bersinar. Seolah-oleh masih betah berselimut awan pagi yang enggan disibakkannya. Sesaat aku duduk-duduk di atas teras selepas oleh raga pagi. Kuambil segelas air putih tepat di samping meja yang hampir rapuh. Terasa berbeda pagi itu karena sang istri sudah menyiapkannya jauh sebelum aku datang.
Sesaat kuambil air yang tinggal seperempatnya. Alama….h sebagian partikel-partikel air tampak tertarik ke dinding gelas. Sehingga yang tampak permukaan air cekungan. Aku agak sedikir keran dengan sifat air seperti ini. Mungkinkah karena dasar gelas yang cekung itu. Hm… jadi terasa romantis dengan gelas pesta yag tak biasa disuguhkan pagi itu. Biasanya gelas ini menjadi andalan kalau ada orang bertamu ke gubukku.



Rasa penasaranku terus mengisi ruang otak kepalau yangmasih berkeringat. Kuambil gelas kesukaanku- kali ini dengan dasar yang lebih rata-. Air tadi kucoba pindahkan ke dalam gelas yang barusan ku ambil. Dan lagi-lagi aku terperanjat dengan sifat air ini. Partikel air permukaan yang nempel di dinding gelas tampak tertarik oleh partikel dinding gelas/kaca. Sehingga membentuk fenomena permukaan air yang cekung. Ternyata buka gara-gara gelas pesta itu ya……….
Seandainya partikel air mempunyai 2 tangan, maka satu tangan tertarik oleh partikel-partikel air yang lain dan satu tangan lagi tertarik lebih kuat oelh tangan-tangan partikel kaca. Terbayang saat itu, terjadi perebutan partikel air antara partikel kaca dengan air. Dan aku piker kalau gaya tarik partikel kaca lebih besar daripada air, tentulah membentuk permukaan cekung. Hm… ternyata gaya tarik-menarik partikel aair dengan kaca lebih kuat/ besar di banding dengan gaya tarik antara partikel sejenis. Biar lebih keren kita istilahkan… gaya tarik antara partikel-partikel sejenis disebut gaya Kohesi sedangkan gaya tarik menarik antar partikel yang berbeda jenis disebut adhesi. Jadi bisa kita katakan pada permukaan cekungan air gaya adhesi lebih besar daripada kohesi.
Haw… pipiku mulai terasa panas nih…kayanya sang matahari mulai menyentuhku dan tak malu-malu lagi…. Seolah-oleh memenyruhku tuk segela mandi…. M Aan S