TINGGALKAN JEJAK KUNJUNGAN SOBAT DENGAN KOMENTAR SAHABAT. TERIMA KASIH....

Selasa, 18 Agustus 2009

Antara Ceu PeU, teh Moni dan Ki mbod

(Bagian satu)

Hah… kutarik nafasku dalam – dalam. Sing pagi itu langit itu begitu cerah. Kutelpon mang Wawan dari kejauhan. Kebetulan rumahnya cukup jauh dari rumahku. Aku panggil dia untuk melihat teh moni yang telah lama berbaring sakit.
Siang hari setelah dzuhur dan makan siang, mang Wawan pun datang – dia telat 2 jam dari yang ia janjikan.
“Gimana kang OP?” tanya mang Wawan
“Baik mang!” jawabku.
“Teh Moni nya mana?” Mang Wawan tanya berikutnya.
“Oh ya… ada di dalam, ayo mang masuk ke dalam!” Pintaku “emang masuk keluar?

Masuk mah ke dalam atuh kang!
Ga papa diluar aja kang!
“Ya udah atuh nanti saya bawa keluar aja.” Jawabku.

Akhirnya aku keluar bersama the Moni. Nampak mang wawan sedang membereskan alat-alat dan memasang alat listrik karena biasanya dalam melakukan terapi ia tak lepas dari listrik.

Setelah dilihat-lihat oleh mang Wawan. wah… kalau keadaannya begini,Kayaknya aku perlu bantuan yang lain. Bay the way… ceu Peu, ki mbod dan wa amus ada? Tanya mang wawan dengan logat Bandungnya yang lekat.
Aku sudah lama ga mlihat mang Wawan, tampak kumisnya udah semakin lebat. “Aku kaya ingat dengan mister Limbat” gumamku.

Tepat jam satu siang, akhir nya sudah ngumpul diteras rumahku yang sempit.
Mulailah mang Wawan “mengobati” the Moni.
“Sudah lama the moni begini?” Tanya mang Wawan.
“ ya… sudah lama terbaring mang, sekitar lima bulan, mau sama saya tapi ga bisa” jawabku pasrah.
Sekitar satu jam mang Wawan melakukan segala daya upaya. Dan akhirnya selesai sudahlah. “Cepat juga ya….emang pinter mang wawan! Gumamku
“alhamdulillah akhirnya teh moni sembuh juga” kataku….
“ rawatlah baik-baik ya… sering dikontrol! Pinta mang Wawan.
Akhinya mang Wawan pun pulang melanjutkan pasien berikutnya. Kuberikan uang sepuluh ribuan tiga sama lima ribuan satu sebagai balas jasa sama mang Wawan.

Syukur Alhamdulillah ya Alah, akhir teh Moni telah kembali baik, wajahnya sudah nampak bersinar di balik kulit nya yang agak kehitam-hitaman.

The moni, ceu Pu, Ki Mbod dan wa Amus sudah berkumpul kembali diruanganku yang sempit. Kucoba menyatukan mereka kembali. Aku ingin mereka menjadi sesuatu kesatuan yang utuh. Saling berbagi dan memberi. Jika yang satu tak ada yang lainnya pun menjadi tak berdaya. Begitulah kehidupan mereka selama ini.

“Massa Allah, kenapa lagi the moni? Ku lihat ia tak memancarkan cahayanya kembali. Jangan-jangan seperti itu lagi.” Harap ku cemas.

Ku lihat ceu PU tegar berdiri. “ Tapi….. kok ki mbod, kenapa…. Dari tadi ga ada apa-apa, sekarang malah ga bercahaya….kumaha ini the…satu sakit eh malah ikut-ikutan… gimana aku harus mengurus semua ini.. Mana istriku lagi ga ada, uang nya pun tinggal seratus ribu. Padahal hari masih ditengah bulan.. masih jauh dari tanggal satu lagi….dari mana biaya perawatan semua ini..” aku terus cemas menghadapi situasi ini…
Hh…. Semoga ada ada jalan keluar. Ok aku kang OP “Orang Pintar” jangan dulu stress. Belum juga juga cari jalan lain dah stress duluan… ga boleh itu!” hibur hatiku yang lagi H2C. Istirahat dulu ah.. sudah malam… tubi kontinyu…

Pemain
Aku = Kang OP “nama di udara”
Ceu PU = CPU “ Central Processor Unit”
Teh Moni = Monitor
Ki mbod = keyboard
Wa amus = Mouse

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar